Al-Qur'an ini tegas melarang tajassus alias mencari-cari kesalahan orang. Ini merupakan keburukan sangat besar
ALANGKAH banyak aib kita yang Allah Ta’ala tutupi.
Andaikan aib itu berupa bau busuk, niscaya kita tak akan sanggup mencium
aib kita sendiri. Sesiapa yang Allah Ta’ala telah tutupi aibnya saat
berbuat dosa, maka janganlah ia menceritakan menyebarluaskannya kepada
orang lain. Janganlah menjadi mujahirin.
Siapakah mujahirin itu? Orang yang melakukan perbuatan dosa secara
terang-terangan. Mereka inilah orang yang tidak mendapat ampunan Allah
Ta’ala. Termasuk mujahirin adalah orang yang melakukan perbuatan mungkar
secara diam-diam, Allah Ta’ala pun tutupi, tetapi ia kemudian
menceritakan kepada orang lain tanpa alasan yang haq.
Sangat banyak aib kita yang Allah Ta’ala tutupi. Maka hendaklah kita
berusaha menjaga diri agar tak membuka aib orang lain &
menyebarkannya.
Tidakkah kita ingin termasuk yang dijamin Nabi shallaLlahu ‘alaihi wa sallam?
مَنْ رَدَّ عَنْ عِرْضِ أَخِيْهِ, رَدَّ اللهُ وَجْهَهُ النَّارَ
“Sesiapa mempertahankan kehormatan saudaranya yang akan
dicemarkan orang, maka Allah akan menolak api neraka dari mukanya pada
hari Kiamat.” (HR. Tirmidzi dan Ahmad).
Hadis yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan Ahmad ini menunjukkan
betapa melindungi kehormatan seorang muslim akan menyelamatkan seseorang
dari api neraka. Kehormatan seorang muslim sama mulianya dengan
darahnya; tak boleh menetes sedikit pun tanpa alasan yang dibenarkan.
Jika menjaga kehormatan saudara seiman dan menutupi aibnya merupakan
kemuliaan, maka menyebarluaskan tanpa hak (ghibah) sangat tercela.
Menggunjing (ghibah) itu ibarat memakan bangkai saudaranya; pertanda
sangat busuk dan kejinya perbuatan yang kadang terasa mengasyikkan itu.
Ingatlah, wahai diriku yang bertumpuk kesalahan, sesungguhnya setiap
muslim itu mulia. Haram kita ciderai darahnya, kehormatan dan hartanya.
Sesungguhnya Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:
كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ، دَمُهُ وَعِرْضُهُ وَمَالُهُ
“Setiap muslim terhadap muslim yang lain adalah haram, yaitu darahnya, kehormatannya dan hartanya.” (HR. Muslim).
Tidakkah kita perhatikan ini?
Tidak ada yang memudahkan kita untuk merusak kehormatan sesama muslim
kecuali karena lemahnya iman. Terlebih jika sudah ada buruk sangka.
Penyebab lain yang menggelincirkan kita merusak kehormatan saudara
seiman adalah besarnya kemaksiatan diri yang hendak ditutupi.
Sesungguhnya kemaksiatan yang beriring dengan kezaliman dan kejahatan
itu membuat seseorang cemas terhadap terbukanya aib.
Nurani yang bersih membuat kita merasa gelisah dan malu apabila
berbuat maksiat. Dan semakin bertambah kegelisahan itu jika
kemungkarannya besar. Kecemasan terhadap aib yang tak dapat ditutupi
akan semakin besar dan menakutkan pada orang yang terbiasa membuka aib
orang lain, padahal ia sedang memperbuat kemungkaran besar yang
mengancam kehormatan diri serta kedudukannya di tengah-tengah manusia.
Jika kemaksiatan dan buruk sangka telah mengakar pada diri seseorang,
maka pintu keburukan berikutnya yang segera ia masuki adalah tajassus.
Apakah tajassus itu? Mencari-cari kesalahan hingga mencari
kemungkinan yang tersulit sekalipun. Jika mendapati, ia besarkan
kesalahan itu. Semakin besar semangat untuk melakukan tajassus, semakin
besar pula kecenderungan membesar-besarkan kesalahan atau kekeliruan
yang kecil. Apa yang sebenarnya merupakan kekhilafan dalam urusan
sederhana yang wajar terjadi dan sepatutnya dimaafkan,
ditampak-tampakkan sebagai kejahatan besar. Jika tidak segera bertaubat
dari keburukan ini, ia dapat terperosok kepada keburukan yang lebih
besar, yakni mengada-adakan kesalahan.
Apa bedanya? Mencari-cari kesalahan memang berusaha sekuat tenaga
menemukan keburukan seseorang, sedangkan mengada-adakan lebih buruk
lagi. Mengada-adakan kesalahan itu ia mengetahui betul bahwa tidak ada
kesalahan pada orang tersebut, tetapi ia menisbahkan kesalahan
kepadanya; mengesankan kepadanya bahwa ia berbuat kesalahan yang sangat
besar. Ini semua termasuk fitnah yang keji. Ghibah itu buruk. Tajassus
itu sangat buruk. Dan lebih buruk lagi adalah melakukan fitnah. Karena
itu, kita perlu berhati-hati terhadap buruk sangka agar tidak
tergelincir kepada tajassus atau yang lebih buruk lagi, yakni fitnah.
Allah Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ
إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم
بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا
فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ
“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari
prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan
janganlah mencari-cari keburukan orang lain (tajassus) dan jangan pula
menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka
memakan bangkai saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa
jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha
Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat, 49 : 12).
Firman Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an ini tegas melarang tajassus alias
mencari-cari kesalahan orang. Ini merupakan keburukan sangat besar.
Buruknya tajassus, apalagi jika sampai mengada-adakan kesalahan, akan
lebih besar kerusakannya jika menimpa tokoh, sosok panutan dan penguasa.
Maka, ikhtiar agar tidak bermudah-mudah menjatukan kehormatan sesama
muslim, kita perlu memperbaiki iman, menjaga lisan dan menjaga diri.
Ingatlah sejenak sabda Nabi shallaLlahu ‘alaihi wa sallam:
أَكْثَرُ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ الأَجْوَفَانِ : الفَمُ و الْفَرَجُ
“Yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam neraka adalah dua lubang: mulut dan kemaluan.” (HR. Tirmidzi, Ahmad dan lainnya).
Semoga Allah Ta’ala melindungi kita, para tokoh serta sosok panutan
kita maupun para penguasa dari merusak kehormatan, tajassus dan
mengada-adakan kesalahan.

Komentar
Posting Komentar